1Setelah memastikan semua tahanan dari bangunan-bangunan kecil dan di tengah lapangan berhasil dibebaskan melalui jalan rahasia, Lynx kembali menuju bangunan utama tempat tinggal pimpinan perampok. Kepala suku Yaksa, dan beberapa tetua termasuk Ayunga dipindahkan oleh beberapa perampok kesana saat terjadi kekacauan atas perintah Gahara.

Lynx mendekati bangunan tersebut dengan kewaspadaan tinggi, memastikan tidak ada penjaga yang melihatnya. Di Tangannya tergenggam beberapa anak panah yang diambilnya dari perampok yang menghadang perjalanannya.

Saat menyelinap memasuki ruangan, dari balik pintu, Lynx melihat beberapa perampok berada di dekat tahanan. Dengan segera Lynx menyalurkan energinya ke anak panah yang di pegangnya dan melompat ke dalam ruangan lalu melemparkan anak panah tersebut ke arah para perampok.

Para perampok yang tidak menduga adanya serangan, langsung terjatuh dengan panah menusuk dalam di tubuh mereka.

Namun Lynx tidak menduga. Dia telah melakukan kesalahan dalam menganalisa keadaan. Di saat dia berdiri untuk menyelamatkan para tawanan yang terikat, dari balik bayangan yang menyelimuti sudut ruangan, muncul sosok seorang pria di dekat tahanan lainnya. Wajahnya dipenuhi kesombongan, sementara sepasang mata tajam itu memancarkan tatapan sinis. Lynx mengenali pria itu seketika—Gahara.

Pria pengkhianat itu. Sosok yang pernah dilihatnya berdiri bersama Kronar ketika Lynx menyelidiki mereka.

"Jadi, kau akhirnya muncul, Lynx," ujar Gahara dengan suara mengejek. "Aku sudah mendengar semua cerita tentangmu, Lynx. Kau yang terus mengganggu rencana kami. Apa kau pikir bisa melawan semuanya sendirian?"

Lynx hanya menatap Gahara dengan ekspresi dingin. "Kamu pengkhianat sukumu sendiri. Pengkhianat seperti kau hanya tahu bicara besar. Kau pikir aku akan membiarkanmu terus menyakiti orang-orangmu sendiri?"

Gahara tertawa pelan, tangannya sudah menggenggam sebuah tombak pendek. "Tidak ku duga orang sepertimu bisa mengenaliku. Orang sepertimu tak tahu apa-apa. Kau bukan bagian dari Yaksa. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup di bawah bayangan para tetua ini!" Dia melirik Ayunga dan Uban yang masih terikat di dekatnya. "Mereka tak lebih dari simbol kosong. Saat aku menjadi kepala suku, aku akan membawa Yaksa ke kejayaan, bahkan jika itu berarti bekerja sama dengan Monrest dan perampok!"

"Cukup bicara," potong Lynx. "Kau hanya membuktikan bahwa dirimu tidak lebih dari seorang pengecut yang menjual kehormatan demi kekuasaan."

"Menyerahlah, atau aku akan membunuh mereka semua." Bentak Gahara sambil mengarahkan tombaknya ke arah leher Uban.

"Rencanamu tidak akan berhasil Gahara. Aku sudah membebaskan semua tawanan yang ada di tempat ini." Ejek Lynx sambil tetap waspada menanti kesempatan.

"Jangan dengarkan dia. Kami rela mati asalkan kamu bisa menyelamatkan mereka!" Kata Ayunga yang gembira mendengar Lynx berhasil menyelamatkan para tawanan. Dia berharap anaknya, Jelita, termasuk orang yang diselamatkan.

"Kami tidak sudi tunduk kepada pengkhianat ini. Bunuh dia!" teriak para tetua lainnya.

"Gahara, kamu akan membayar semua pengkhianatan yang telah kamu lakukan." Kata Uban dengan tatapan tajam ke arah Gahara.

"Diam kamu!" Bentak Gahara dengan marah dan menendang Uban dengan kuat.

"Dasar pria bodoh," Batin Lynx.

Melihat adanya kesempatan saat Gahara dengan ceroboh menendang Uban yang berada di ujung tombaknya, Lynx melesat dengan cepat ke arah Gahara dan menendangnya menjauh dari para tawanan.

Gahara yang jatuh terlempar menabrak tembok, segera bangun dengan marah. Dengan gerakan cepat sambil menahan sakit, Gahara melompat maju, mengayunkan tombaknya ke arah Lynx. Namun, Lynx dengan mudah menghindar, membelokkan serangan itu dengan tangan kosong. Tombak Gahara terjatuh ketika Lynx menendangnya dengan kekuatan penuh.

Gahara mencoba menyerang lagi dengan tinjunya, tapi Lynx menangkap pergelangan tangannya dan memutar tubuh Gahara, membuatnya tersungkur ke tanah.

"Berhenti mempermalukan dirimu sendiri," kata Lynx dengan nada dingin sambil mengikat tangan Gahara dengan tali yang ada di dekatnya.

"Lepaskan aku! Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi!" teriak Gahara, berusaha memberontak.

Lynx menunduk mendekatinya, menatap langsung ke matanya. "Aku tahu persis apa yang sedang kuhadapi. Penghianat seperti kau tidak punya tempat di Yaksa."

Setelah memastikan Gahara terikat erat dan mengikat mulutnya, Lynx mendekati Ayunga dan Uban. Keduanya terlihat lemah tapi mata mereka masih penuh dengan tekad.

"Lynx," gumam Ayunga dengan suara pelan. "Apakah namamu Lynx? Kau datang menyelamatkan kami." Katanya dengan bahagia.

Lynx menganggukkan kepala. "Sudah menjadi tugasku memastikan kalian bebas," jawab Lynx sambil memotong tali yang mengikat mereka. "Kita harus segera pergi sebelum para perampok menyadari apa yang terjadi."

Uban, meskipun terluka, mencoba berdiri dengan bantuan Lynx. "Kau benar-benar luar biasa, Lynx. Aku tidak tahu bagaimana kami bisa berterima kasih..."

"Kita tidak punya waktu untuk itu sekarang," potong Lynx. "Ayo, mereka semua sudah menunggu di jalan rahasia."

Lynx memimpin mereka keluar dari penjara besar, mengangkat Gahara yang terikat di pundaknya. "Aku tidak akan membiarkan begitu saja. Dia harus menghadapi hukuman atas pengkhianatan dan perlakuannya terhadap jelita."

"Jelita? Kamu mengenal anakku?" Ayunga segera bertanya dengan perasaan kaget. Dia tidak menduga pemuda yang menolong mereka ini juga mengenal anaknya.

"Jelita baik-baik saja. Dia berada di tempat aman saat kalian bertempur." Jawab Lynx sambil melangkahkan kakinya.

Uban dan Ayunga yang mendengarnya merasa bahagia dan bersyukur, karena perjalanan mereka kali ini tidak sia-sia.

"Apakah kalian tahu, siapa tawanan yang dibawa oleh pimpinan perampok?" Tanya Lynx penasaran. Karena seharusnya pimpinan perampok itu pasti membawa tahanan yang paling bernilai untuk memastikan keselamatan dirinya.

"Kami tidak mengenalnya. Mereka sudah ada disini sebelum kami. Tapi dari pakaiannya, aku yakin mereka dari suku Auksa." Jawab Uban.

"Auksa?" Batin Lynx. "Berarti jejak mereka berhasil aku temukan. Aku harus menyelamatkan mereka dan menemukan suku Auksa agar mereka bisa bersatu melawan Monrest."

Setelah semua tahanan berhasil masuk ke jalan rahasia, Lynx mulai mundur dengan hati-hati, memastikan tidak ada perampok yang mengejar. Namun, beberapa perampok yang menyadari apa yang terjadi mulai mendekat, mencoba menghentikan pelarian.

Lynx bertarung dengan ketangkasan luar biasa, menggunakan senjata seadanya yang diambil dari penjaga sebelumnya. Dalam waktu singkat, ia mengalahkan setiap perampok yang mencoba menghalanginya.

Ketika Lynx akhirnya mencapai pintu keluar jalan rahasia, Jelita dan yang lain menyambutnya dengan lega.

"Ayah!" seru Jelita, berlari ke arah Ayunga dan memeluknya erat. "Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi..."

"Jelita..." Ayunga memeluk putrinya, suaranya bergetar. "Kau selamat. Itu yang terpenting."

Ayunga memeluk anaknya sambil menangis sedih. Dia melihat luka-luka bekas penyiksaan yang jelas terlihat di tubuh Jelita. Ayunga mengepalkan tangannya karena marah mengetahui perlakuan mereka ke anaknya.

Kepala suku dan tetua lainnya memandang Jelita dengan prihatin dan bersedih.

"Kita harus segera pergi dari sini! Kita masih belum aman." Lynx mengingatkan.

"Terimakasih Lynx, kamu berhasil!" seru Jelita bahagia, meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa cemas.

"Kita belum selesai," jawab Lynx dengan napas terengah. "Mereka akan sadar segera dan mencoba mengejar. Kita harus segera pergi."

Rafin dan Ekar membantu memandu para tahanan yang lemah dan terluka menjauh dari jalan rahasia, menuju tempat aman yang telah disiapkan sebelumnya. Lynx memimpin di belakang, memastikan semua orang keluar dengan selamat.

Malam itu, meskipun penuh dengan bahaya, setelah seharian berjuang, akhirnya Lynx berhasil membebaskan semua tahanan dan mengguncang perkampungan perampok yang sebelumnya tampak tak tergoyahkan.

Ditempat yang telah mereka tentukan, Lynx melihat Darek dan teman-temannya membantu para tahanan yang terluka, memberikan air dan menenangkan mereka.

"Kita harus pergi sekarang," kata Lynx dengan tegas. "Para perampok mungkin menyadari apa yang terjadi dan segera mengejar kita."

Semua orang mulai bergerak menuju suku Yaksa melalui jalur aman yang telah dipersiapkan.

Namun, tiba-tiba, dari kegelapan langit malam, terlihat beberapa kilatan petir menyambar dari kejauhan, namun bukan seperti yang biasa mereka lihat. Petir itu berwarna merah muda dan ungu, menerangi langit yang gelap dengan kilatan aneh. Suara guntur yang mengikutinya bukanlah guntur biasa, melainkan suara yang mengguncang, seperti sebuah ledakan yang memekakkan telinga.

"Apa itu?" tanya Lynx dengan penasaran.

Mereka berhenti sejenak, pandangan mereka tertuju pada langit yang tidak biasa. Mereka merasakan sesuatu yang aneh, sebuah fenomena alam yang tidak biasa dan menakutkan.

"Itu... bukan petir biasa," kata Uban pelan, suaranya mengandung keraguan. "Aku belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Ini... berbeda."

Mata Lynx beralih ke wajah-wajah di sekitarnya. Semua tampak gelisah, tapi dia tahu mereka tidak bisa berhenti sekarang. "Kita harus melanjutkan perjalanan. Kita belum aman. Kita bisa diserang kapan saja."

